Lawan Pencekalan, AJI Kediri Putar Film Samin vs Semen

IMG_20150424_210825

KEDIRI – Larangan pemutaran film dokumenter berjudul Samin vs Semen produksi Watchdog di Malang terus memicu perlawanan dari kalangan aktivis. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kediri menggelar nonton bareng film berlatar belakang konflik lingkungan itu bersama mahasiswa dan aktivis sosial.

Bertempat di sekretariat AJI Kediri Jalan Adi Sucipto Nomor 15-B, pemutaran film yang berlangsung Jumat 24 April 2015 memancing diskusi panjang di kalangan aktivis dan jurnalis. Mereka menilai tak ada unsur provokasi dari film tersebut seperti yang menjadi alasan Rektorat Universitas Brawijaya Malang dalam pelarangannya. “Itu larangan yang tak masuk akal,” kata Danu Sukendro, anggota majelis etik AJI Kediri, Sabtu 25 April 2015.

Dia juga mengecam sikap kampus yang cenderung represif terhadap hal-hal kritis di kalangan mahasiswa, dan membunuh daya nalar serta kepekaan sosial mereka. Sebab film yang dibuat oleh Dandi Laksono, sineas yang juga aktivis AJI ini sarat dengan kritik sosial atas perlawanan masyarakat Samin terhadap industrialisasi di tanah mereka. Film tersebut mengisahkan pengikut ajaran Samin di pegunungan kars Kendeng, Jawa Tengah, yang menolak industri semen. Para ibu berjuang mempertahankan lahan pertanian yang telah beralih fungsi menjadi kawasan tambang semen.

Forum diskusi yang berlangsung usai pemutaran film juga merekomendasikan kepada jurnalis dan masyarakat luas untuk mulai menekuni pembuatan film dokumenter sebagai media alternatif. Sebab hingga saat ini masih banyak persoalan masyarakat yang tak terpublikasi oleh media umum dengan alasan tak sesuai kebijakan redaksi. “Inilah konsekuensi media bisnis,” kritik Fadli Rahmawan, Sekretaris AJI Kediri.

Menurut Fadli, dunia informasi khususnya video jurnalis bukan lagi menjadi hegemoni para pekerja media televisi. Kemunculan film-film dokumenter seperti Samin vs Semen ini menjadi bukti bahwa semua orang bisa menjadi jurnalis video. Karena itu ke depan AJI Kediri akan lebih serius memfasilitasi anggotanya untuk memproduksi film dokumenter dengan tema-tema sosial.

Sebelumnya pemutaran film ini sempat dilarang di lingkungan kampus Universitas Brawijaya Malang. Pencekalan yang dikeluarkan pada tanggal 16 April 2015 kepada Lembaga Penerbitan Mahasiswa DIANSS sebagai penyelenggara acara ini berdalih bertepatan dengan libur mahasiswa dan peringatan Hari Buruh tanggal 1 Mei mendatang. HARI TRI WASONO
IMG_20150424_210825

Dicegat Polantas Malah Dapat Helm, Anggik Kaget

KEDIRI Wajah Anggik Pratama terlihat pucat pasi saat laju kendaraan yang ditumpanginya dihentikan oleh beberapa personil polisi lalu lintas yang sedang menggelar razia kendaraan di halaman Mapolsek Kediri Kota, Jawa Timur, Hal itu terjadi karena pelajar sebuah SMA itu kedapatan tidak mengenakan helm saat berkendara.

Alih-alih mendapat surat tilang, pelajar bertubuh kurus itu malah mendapatkan helm secara gratis oleh personil polantas yang mencegatnya. Anggik semakin kaget dan masih belum menyadari kondisi hingga polantas tersebut menjelaskan bahwa razia tersebut dalam operasi simpatik.

” Wah, tadi terlanjur takut ditilang,” kata Anggik sambil tersenyum gembira lalu meninggalkan lokasi.

Berbeda dengan Anggik, Ani, pengendara motor lainnya, malah meminta tambahan helm kepada polisi. Saat itu, perempuan muda itu sedang dibonceng rekannya dan kedapatan tidak mengenakan helm sehingga dihentikan petugas. Dia pun tidak ditilang dan hanya mendapatkan peringatan biasa untuk tidak mengulangi perbuatannya.

” Bisa minta helm-nya lagi, pak?,” pintanya, lalu disambut ketawa oleh para polantas.

Razia tersebut memang bukan dititikberatkan pada penindakan namun lebih pada pendekatan persuasif berupa sosialisasi pentingnya menjaga ketertiban dan kelengkapan surat kendaraan demi keamanan berkendara karena sedang berlangsung operasi simpatik. Para pelanggar hanya dikenai nasehat agar kesalahannya tidak terulang kembali.

” Selain kita bagikan helm, kita juga kasih bunga untuk pengendara yang sudah tertib,” kata Iptu Dian Kaur Regident Polres Kediri Kota.

Operasi simpatik itu sendiri, lanjut dia, akan berlangsung selama dua puluh satu hari yaitu mulai tanggal 1 hingga 21 April nanti.

Brimob Kediri Bina Anjal Agar Tidak Terjerumus Faham Radikal

KEDIRI- Satuan Brimob di Kediri, Jawa Timur, merasa perlu melakukan penangkalan penyebaran faham radikalisme dengan memberikan penyuluhan yang menyasar berbagai kalangan. Salah satunya penyuluhan yang dilakukan terhadap kelompok anak jalanan (anjal).

Wakil Komandan Satuan Brimob Sub Detasemen C Kompi 1, Iptu Sukidi, mengatakan, pihaknya akan mengumpulkan para anjal tersebut dari berbagai tempat untuk dilakukan pembinaan. Ini dilakukan agar mereka tidak terjerumus pada faham radikalisme.

” Nanti kita kumpulkan, kita bina dengan memberi wawasan Pancasila,” kata Iptu Sukidi disela memberikan penyuluhan cegah tangkal penyebaran faham radikalisme di pesantren Walibarokah LDII Kediri,.

Brimob setempat saat ini memang sedang giat melakukan penyuluhan untuk meminimalisasi faham radikal. Selain terhadap anjal, mereka juga mendatangi pesantren, sekolah, maupun elemen masyarakat lain dengan memberikan wawasan Pancasila.

Saat ini, kata Sukidi, wilayah Kediri cenderung kondusif dan belum ada tanda-tanda penyebaran faham radikal seperti ISIS. Namun hal tersebut menurutnya tidak boleh membuat terlena dan harus tetap wapada.

“Kita akan terus bekerjasama dengan elemen lainnya seperti forum kerukunan umat beragama (FKUB) yang ada di Kediri ini,” pungkasnya.

Sebelumnya, di Kabupaten Tulungagung, wilayah yang berbatasan langsung dengan Kediri, pekalu terjadi penggerebekan yang dilakukan oleh tim Densus antiteror terhadap seorang warga yang diduga anggota ISIS. Pria yang diduga baru datang dari Suriah itu kemudian dibawa ke Jakarta..

Banyak Warga Negara Timor Leste Belajar di Kediri

KEDIRI- Kediri, Jawa Timur, ternyata cukup menjadi tujuan kunjungan yang cukup diminati bagi warga negara asing. Mereka datang dari berbagai negara dan tujuan utamanya dalam bidang pendidikan.

Berdasarkan catatan Kantor Imigrasi Kelas III Kediri yang juga membawahi wilayah Kabupaten  Jombang dan Kabupaten Nganjuk, jumlah warga asing yang ada di wilayahnya mencapai 228 jiwa yang berasal dari berbagai negara seperti Timor Leste, Thailand, Malaysia, China, Singapura,  Jepang, Inggris, hingga India.

Dari total jumlah tersebut,198 WNA diantaranya berada di wilayah Kediri. Para ekspatriat itu rata-rata tinggal sementara dengan tujuan menuntut ilmu pada beberapa perguruan tinggi swasta. Para mahasiswa itu terutama dari Timor Leste dan jumlahnya mencapai 171 orang.

” Mereka kuliah di bidang kesehatan dengan menggunakan kartu ijin tinggal terbatas (Kitas) pelajar,” kata Abdillah Saefudin, Kasubsi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian Imigrasi Kediri, Kamis (25/3/2015).

Meski banyak warga asing, Abdillah menambahkan, selama ini masih cenderung kondusif dan para WNA itu taat administrasi keimigrasian. Mekanisme pengawasan terus dilakukan dengan mengacu prosedur yang ada untuk meminimalisir masalah.

” Dengan pengawasan itu bertujuan misalnya jangan sampai ada yang overstay atau masalah lainnya,” imbuhnya.

Kediri terletak sekitar 100 kilometer dari Surabaya maupun Malang. Soal pendidikan, cukup banyak bertebaran perguruan tinggi namun belum ada yang negeri. Di Kediri juga ada wilayah yang populer disebut “kampung inggris”, yaitu di Kecamatan Pare karena banyaknya lembaga kursus Bahasa Inggris di kampung itu.

Raden Mas Tirtohadisoerjo, Pelopor Jurnalis Indonesia

7f7373567c82f2e1a5cc79d7eca1ea60_aSecara historis, pers mempunyai peran penting dalam bangkitnya wawasan kebangsaan dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Apalagi untuk pers periode tahun 1900-an. Hasrat rakyat bagi kemerdekaan dan perjuangan yang sadar dari kepemimpinan revolusioner memerlukan koordinasi. Pers berperan dalam memberikan koordinasi ini.

Jakarta, Aktual.co —.Secara historis, pers mempunyai peran penting dalam bangkitnya wawasan kebangsaan dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Apalagi untuk pers periode tahun 1900-an. Hasrat rakyat bagi kemerdekaan dan perjuangan yang sadar dari kepemimpinan revolusioner memerlukan koordinasi. Pers berperan dalam memberikan koordinasi ini.
Tokoh-tokoh pejuang seperti Haji Agus Salim, Sam Ratulangi, Danudirdja Setyabuddhi (Douwes Dekker), Ki Hajar Dewantara, dan Tjipto Mangunkusumo, adalah tokoh-tokoh garis depan dalam pengembangan pers nasional, yakni pers yang akan berperan penting dalam perjuangan fisik di tahun 1940-an.
Bahkan Bung Karno pernah memimpin Fikiran Rakjat di Bandung, Bung Hatta bersama Sutan Sjahrir memimpin Daulat Rakjat, Haji Oemar Said Tjokroaminoto memimpin Oetoesan Hindia, dan Dokter Soetomo mengusahakan Soeara Oemoem, yang dipimpin Tjindarbumi dibantu Sudarjo Tjokrosisworo.
Pers yang pertama kali diterbitkan oleh seorang pribumi di era Hindia Belanda adalah Medan Prijaji, yang sebelum menjadi harian telah terbit sebagai mingguan selama tiga tahun, sejak 1907. Penerbitnya adalah Raden Mas Tirtohadisoerjo, bekas murid Stovia yang bisa disebut sebagai “pelopor jurnalis Indonesia.”
Sebelum menerbitkan Medan Prijaji, ia telah berpengalaman sebagai wartawan suratkabar harian Bintang Betawi, yang dipimpin J. Kieffer dari Firma Van Dorp & Co. Tirtohadisoerjo adalah seorang priyayi dan saudara Bupati Purwodadi, sedangkan orangtuanya sendiri adalah seorang kolektur (juru pengumpul uang pada zaman Belanda atau Manteri Pajak) di Ponorogo. Ayah Tirtohadisoerjo bernama Raden Mas Tumenggung Tirtonoto.
Walau suratkabar yang diasuh Tirtohadisoerjo itu bernama Medan Prijaji, suratkabar yang terbit di Bandung itu tidak dimaksudkan hanya untuk kaum priyayi. Moto majalah ini semula berbunyi: “Swara bagi sekalijan Radja2, Bangsawan Asali dan fikiran saudagar-saudagar Anaknegeri, lid-lid Gemeente dan Gewestelijke Raden dan saudagar bangsa yang terprentah lainnya.”
Sesudah makin maju, majalah ini menjadi harian, dan motonya semakin tegas dan jelas, yakni: “Orgaan boeat bangsa jang terprentah di H.O. Tempat akan memboeka swaranja Anak-Hindia.” H.O. adalah singkatan dari Hindia Olanda. Pada saat itu, moto ini sudah dianggap sangat radikal. Bandingkanlah dengan moto Sinar Soematra di Padang, yang berbunyi: “Kekallah kerajaan Wolanda, sampai mati setia kepada kerajaan Wollanda” (!)
Yang juga menarik, menurut buku Sejarah Pers Sebangsa, disebut nama-nama para pengelola Medan Prijaji. Sebagai pemimpin redaksi (hoofdredacteur) adalah Tirtohadisoerjo sendiri, dengan redaktur A.W. Madhie, Raden Tjokromidjojo, Raden Soebroto (ketiganya dari Bandung), R.M. Prodjodisoerjo dan R. Kartadjoemena di Bogor, dan P.t (Paduka tuan) J.J. Meyer, pensiunan Asisten Residen di ‘s Gravenhage, sebagai redaktur di Nederland. Juga disebut adanya “beberapa joernalist bangsa Tiong Hoa dan Anak negerie jang pandai2 jang sudah kita pilih mentjoekoepi pada kewadjibannja, a.m (antara mana) Begelener, Hadji Moekti dan lain-lain.”
Di sini terlihat, Tirtohadisoerjo melibatkan dalam susunan redaksinya berbagai unsur masyarakat yang ada waktu itu: Belanda, Cina dan pribumi. Ini suatu langkah yang luar biasa pada saat itu, jika mengingat Medan Prijaji di bawah Tirtohadisoerjo sering bersikap kritis terhadap praktek dagang pengusaha Belanda dan Cina yang merugikan atau mendesak posisi pedagang pribumi. Dalam satu segi, ini juga indikasi dari benih-benih nasionalisme Indonesia.
Jelaslah bahwa Medan Prijaji bukan saja merupakan suratkabar nasional yang dipimpin oleh tenaga-tenaga nasional sendiri, tetapi juga sekaligus dimodali oleh modal nasional. Meskipun di antara para redaktur dan pembantunya juga dicantumkan nama J.J. Meyer.
Tokoh Tirtohadisoerjo ternyata mendapat tempat yang banyak pula dalam laporan-laporan pejabat-pejabat Hindia Belanda, terutama laporan Dr. Rinkes. Ini disebabkan karena kemudian Tirtohadisoerjo memegang peranan pula dalam pembentukan Sarekat Dagang Islam di Surakarta bersama Haji Samanhudi, yang merupakan asal mula Sarikat Islam yang kemudian berkembang ke seluruh Indonesia. Anggaran Dasar Sarikat Islam yang pertama mendapat persetujuan Tirtohadisoerjo sebagai ketua Sarikat Islam di Bogor dan sebagai redaktur suratkabar Medan Prijaji di Bandung.
Pergerakan politik anak negeri jajahan biasanya disebut gerakan nasional. Dalam hubungan itu, maka baik lahirnya Medan Prijaji maupun suratkabar-suratkabar nasional lainnya, pada kenyataannya tidak jauh berbeda dengan gerakan kebangsaan Indonesia. Pers nasional dan gerakan kebangsaan Indonesia merupakan dwitunggal dalam arti yang luas. Antara gerakan kebangsaan dan persnya terjalin hubungan kerjasama yang erat. Pers nasional adalah cermin nyata kehidupan gerakan kebangsaan, dan sekaligus juga menjadi wahana penyebar gagasan-gagasan nasionalisme.
Kalau nilai tradisi (keindonesiaan) dalam arti yang lebih utuh kita anggap ada sejak tercetusnya “Sumpah Pemuda” dalam Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928, benih-benihnya secara parsial sebenarnya sudah tertanam lama sebelumnya. Jelas sekali bahwa Tirtohadisoerjo telah menunjukkan warna tradisi itu. Namun “tradisi” yang dimaksud di sini bukanlah sesuatu yang dipertentangkan dengan modernitas.
Namun dalam perlawanannya dan kecamannya yang tajam terhadap praktek-praktek kolonial Hindia Belanda, “tradisi” Tirtohadisoerjo ini sebenarnya juga adalah salah satu wujud modernitas, yakni keyakinan bangsa (perubahan) nasib itu ditentukan oleh diri sendiri, bukan oleh pihak luar. Dengan demikian, penerbitan pers menjadi perwujudan kehendak suatu individu/bangsa yang sadar untuk menentukan nasibnya sendiri dan berpendapat bahwa suaranya berharga untuk didengar.
Medan Prijaji lahir pada periode ketiga, menurut pendekatan bibliografi yang dilakukan Hoogerwerf (1990). Periode pertama (1800-1856) didahului oleh masa keterbatasan di masa VOC (Kompeni Perdagangan Hindia Timur). Pers di Hindia Belanda menjadi percaturan dan perdebatan politik di DPR Belanda, antarwakil berbagai golongan politik. Periode kedua (1856-1900), diwarnai latar belakang kehidupan politik Belanda dan munculnya pers Hindia Belanda yang didominasi kaum liberal, yang berhasil menghapus sistem Tanam Paksa dan UU Agraria 1870. Muncul pemikiran Politik Etika yang bertujuan memperbaiki martabat dan derajat penduduk bumiputra.
Medan Prijaji lahir pada periode ketiga (1900-1942), ketika pengaruh Politik Etika menumbuhkan pandangan-pandangan baru dan pemikiran baru mengenai perimbangan-perimbangan kolonial. Muncul kesadaran politik baru bahwa hubungan terjajah dan penjajah tidaklah abadi, dan pada suatu ketika masyarakat Indonesia akan sanggup berdiri sendiri. Elite Indonesia yang baru tumpuh pun memperhatikan pandangan baru itu.
Kedudukan pers berbahasa Melayu lebih penting daripada pers Belanda, karena pers berbahasa Melayu langsung dapat menarik pembaca-pembaca bumiputra. Namun keadaan pers Indonesia bila dibandingkan dengan pers Belanda dan pers Cina (Tionghoa-Melayu) kebanyakan jauh di bawah ukuran. Hal itu dapat dimengerti, karena sebagian besar rakyat yang merasa memerlukan membaca koran (Indonesia), tidak begitu banyak uangnya. Padahal harga langganannya sudah begitu rendah, sedangkan iklan-iklannya pun hanya merupakan sumber penghasilan yang kecil, dan peralatannya sangatlah sederhana.
Hanya lima tahun Medan Prijaji dapat terbit dan dalam masa jayanya antara 1910-1912 dapat mencapai oplah hingga 2.000, suatu jumlah yang untuk suratkabar Belanda sendiri saat itu sudah termasuk besar. Kecuali Medan Prijaji, ia juga menerbitkan Soeloeh Keadilan. Karena karangan-karangannya yang tajam terhadap penguasa, Tirtohadisoerjo pernah dibuang ke Lampung. Tetapi dari tempat pembuangan itu pun ia masih terus menulis karangan-karangan yang bercorak membela rakyat kecil, serta melawan praktik yang buruk dari pemerintah setempat.
Ketika menulis buku kenang-kenangannya pada tahun 1952, Ki Hajar Dewantara mencatat tentang diri Tirtohadisoerjo sebagai berikut: “Kira-kira pada tahun berdirinya Boedi Oetomo ada seorang wartawan modern, yang menarik perhatian karena lancarnya dan tajamnya pena yang ia pegang. Yaitu almarhum R.M. Djokomono, kemudian bernama Tirtohadisoerjo, bekas murid Stovia yang waktu itu bekerja sebagai redaktur harian Bintang Betawi (yang kemudian bernama Berita Betawi) lalu memimpin Medan Prijaji dan Soeloeh Pengadilan. Beliau boleh disebut pelopor dalam lapangan journalistik.”
Sudarjo Tjokrosisworo dalam bukunya Sekilas Perjuangan Suratkabar (terbit November 1958) menggambarkan Tirtohadisoerjo sebagai seorang pemberani. “Dialah wartawan Indonesia yang pertama-tama menggunakan suratkabar sebagai pembentuk pendapat umum, dengan berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pihak kekuasaan dan menentang paham-paham kolot. Kecaman hebat yang pernah ia lontarkan terhadap tindakan-tindakan seorang kontrolir, menyebabkan Tirtohadisoerjo disingkirkan dari Jawa, dibuang ke Pulau Bacan,” tulis Tjokrosisworo.
Tirtohadisoerjo jelas mewujudkan dalam dirinya sisi intelektual. Karena menjadi seorang wartawan, penerbit suratkabar, pada waktu itu otomatis menghadapkannya pada realitas kekuasaan kolonial, serta keterlibatan dalam masalah kemasyarakatan. Tirtohadisoerjo, misalnya, harus berhadapan dengan produk hukum kolonial yang menekan pers. Pada tahun Tirtohadisoerjo meninggal (17 Agustus 1918), diberlakukan ketentuan-ketentuan untuk menindak wartawan, yakni bersamaan dengan berlakunya Wetboek van Strafrecht van Nederlands-Indie (kitab Hukum Pidana).

AJI Indonesia Menggelar Web Development Training

“Memenuhi hal tersebut, peningkatan mutu SDM melalui pelatihan dalam pengembangan web serta media sosial yang berisi informasi berita, menjadi sangat penting,” tegas Sekretaris Jendral (Sekjen) Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Arfi Bambani Amri, dalam rilisnya kepada katakini.com.
Dalam upaya meningkatkan kapasitas anggota dan organisasi dalam disiminasi informasi melalui internet berbasis web dan social media (sosmed) ini, AJI Indonesia bekerja sama dengan Development and Peace (D&P) Canada, menggelar “Web Development Training”, pada 18-19 April 2015, di Hotel Morrissey, Jakarta.
Pelatihan ini diharapkan dapat mendorong jurnalis agar menggunakan web dan sosmed, untuk menyebarluaskan isu-isu terkait perdamaian, kaum marjinal dan isu lingkungan, yang belum menjadi fokus utama media mainstream.
“Isu media online sekarang, lebih banyak berkutat isu seputaran Jakarta dan nasional, karena terpusatnya kepemilikan media. Padahal, daerah memiliki berbagai macam persoalan yang perlu diinformasikan pada publik. Dengan adanya penyebaran informasi daerah, diharapkan menjadi wacana nasional yang harus ditangani oleh pemangku kepentingan,” sambung Arfi.
Pelatihan tersebut akan diikuti oleh anggota AJI dari 10 kota, diantaranya Kendari, Makassar, Palu, Medan, Pekanbaru, Bengkulu, Kediri, Pontianak, Mataram, Ambon, serta tambahan dari Bandung dan Jakarta.
“Dengan potensi yang dimiliki AJI, akan bisa lebih mendorong isu-isu yang belum dilirik media mainstream,” tandas Sekjen AJI Indonesia. —

Pelatihan Peliputan Bencana Gunung Api

IMG_096yiAlhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Kediri berhasil menuntaskan rangkaian kegiatan besar, workshop dan pameran foto bertajuk ‘Setahun Erupsi Kelud’ di basement simpang lima gumul, Kabupaten Kediri pada (12-14 Februari 2015).

Secara keseluruhan, dua kegiatan tersebut berlangsung sukses. Asas manfaat yang bisa dipetik dari kegiatan tersebut bisa dipahami oleh seluruh peserta yang terlibat. Sehingga, banyak pihak yang tergerak ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

AJI Indonesia telah berperan maksimal dalam pelaksanaan kegiatan tersebut dengan menghadirkan beberapa narasumber dengan beragam kompetensi masing-masing sebagai pemateri workshop. Serta dukungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menghadirkan Bapak Soetopo (Kepala Pusat Data Informasi dan Humas) , serta dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi ( PVMG) juga menghadirkan Ibu Supriyati Andreastuti (Kepala Bidang Evaluasi Bencana).

Kepedulian sponsor tunggal dari PT Gudang Garam Tbk merupakan support yang besar bagi AJI Kediri. AJI Kediri menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas peranan PT Gudang Garam Tbk.

 

 

 

Workshop Setahun Letusan Kelud

Workshop ‘SETAHUN ERUPSI KELUD’ digelar pada Kamis, 12 Februari 2015. Workshop berlangsung pukul 09.00 – 16.00, di Basement Monumen Simpang Lima Gumul, dengan dihadiri langsung oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Bapak Syaifullah Yusuf. Selain membuka acara, wagub juga memberikan pandangan positifnya terkait kegiatan.

Dalam kegiatan ini Kepala PVMBG berhalangan hadir dan mendelegasikan pemberian materi pada Dr Supriyati Andreastuti (Kepala Bidang Evaluasi Bencana). Pemateri lainnya adalah Dr. Sutopo Purwo Nugroho (Kepala Pusat Data dan Informasi Humas BNPB) dan Satriyo Aris Munandar (Wartawan senior AJI Indonesia). Selain dihadiri narasumber tersebut diatas, juga dihadiri Ngaseri camat Ngancar yang memberikan testimoni. Dimana saat itu dia harus banyak belajar tentang karakter gunung api sehingga bisa mengenali fase-fasenya agar bisa mengambil langkah demi menyelamatkan warganya. Tidak hanya itu, Ngaseri juga harus pro aktif menjalin komunikasi pada semua pihak. “Saya hanya dicetak saja sebetulnya. Saya di Kecamatan Ngancar sebetulnya bulan November. Waktu itu, Pak Khoirul sudah berbicara dengan saya bahwa Gunung Kelud sudah ada perubahan (pergerakan Gunung). Saya dari orang tidak tahu, harus belajar. Tanggal 25 Desember kami laksanakan gladi lapangan dilaksanakan di zona III atau ring satu. Tanggal 26 saya ditelpon oleh mas Khoirul menyatakan gunung statusnya telah berubah menjadi waspada. Saya dicetak harus mengetahui gunung api, dan mengetahui energi. Saya harus mengetahui proses erupsi, vulkanik dalam dan dangkal. Setiap hari saya ada disana bersama teman media.

Fase waspada kami jadikan sebagai ajang untuk belajar, setiap 6 jam sekali kami sampaikan perkembangan kepada masyarakat. Kami menyampaikan informasi itu pada masyarakat Kabupaten Kediri, Blitar dan Malang.

Konsep penyampaikan informasi kalau dulu melalui analisa, sekarang kita rubah. Oleh karena itu, kami mengambil konsep penyampaikan informasi langsung kepada masyarakat. Sehingga masyarakat tahu. Sehingga mereka bisa bersiap-siap. Karena orang masyarakat awam ada kecenderungan informasi yang benar yang diterima. Penyampaian informasi itu melalui satu pintu,”

Selain Ngaseri, kami juga menghadirkan Khoirul Huda Kepala Pos Pantau Gunung Kelud yang juga testimony. ” Mengenang 1 tahun erupsi G. Kelud, Waktu 2007 waktu itu punya keinginan berbuat untuk masyarakat. Menurut saya yang paling penting adalah mencerdaskan masyarakat”. Serta Prapto (Radio Kelud Fm) dengan testimoniMengenang 1 tahun erupsi G. Kelud menurut saya, erupsi kemarin adalah keberhasilan semuanya, keberhasilan masyarakat. Saya sejak 2008, 20 agustus sejak itu bersam-sama mendeklarasikan itu, dan dari Kelud kemarin, banyak hal. Tetapi proses panjang itu merupakan sebuah kebetulan, atau sebuah keberhasilan masyarakat itu sendiri”.