Sejarah

Lahir dari Tepi Sungai Brantas

IDE itu bermuara dari tepi sungai Brantas, di emperan Kantor Pos dan Giro Kota Kediri, pada awal 2006. Ditemani secangkir kopi, para jurnalis muda kerap terlibat obrolan santai diselipi diskusi hingga larut malam.

Beragam persoalan muncul. Masalah upah jauh di bawah UMK, hingga intimidasi terhadap wartawan yang membutuhkan advokasi. Persoalan yang seolah tak berujung ini menyadarkan para jurnalis akan perlunya wadah formal.

Dwidjo Utomo Maksum diminta mempelopori pendirian Aliansi Jurnalis Independen Kediri. Dwidjo, kala itu Koresponden Tempo, satu-satunya jurnalis di Kediri yang terdaftar sebagai anggota AJI. Dia juga hadir dalam Deklarasi Sirnagalih, lahirnya AJI pada 1994, saat menjabat Sekretaris Jenderal Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI).

Dwidjo tak serta merta mengiyakan. Dia mempertanyakan komitmen rekan-rekannya. “Saya bilang, melok AJI iku abot lho rek (gabung AJI itu berat-Red). Konsekuensinya, kalian tak boleh terima amplop,” ungkap Dwidjo.

Namun, realitas perlunya organisasi ini tak bisa ditolak Dwidjo. Hal krusial adalah perlindungan jurnalis dan kode etik. “Siapa yang bisa melarang wartawan menerima amplop, kalau bukan kode etik organisasi,” katanya.

Hati Dwidjo tergugah melihat tekad rekan-rekannya. Dia menyampaikan rencana pendirian AJI Kota Kediri pada AJI Indonesia. AJI Kota Malang dan AJI Kota Surabaya juga mendukung pendirian AJI di kota tahu ini.

Untuk mematangkan pendirian AJI, wartawan yang bertugas di Kediri dan Tulungagung diundang dalam sebuah forum diskusi yang lebih serius. Sebanyak 26 wartawan hadir dalam diskusi di Perumahan Wilis Indah II Blok H-Raya 22 Kediri. Rumah kontrakan sejumlah jurnalis muda, Miftahul Arif, Hamludin, dan Edi Purwanto.

Bertindak sebagai narasumber adalah Dwidjo Utomo Maksum (wartawan Tempo) dan Ahmad Amrullah (wartawan Metro TV). Sementara Runik Sri Astutik (wartawan Kompas) hadir sebagai peninjau.

Materi yang mereka sampaikan menyangkut konsep internal dan eksternal serta kelembagaan AJI. Fokus kajian juga ditujukan kepada persoalan ideologi pers, khususnya mengenai spirit anti amplop atau kerap di sebut sebagai semangat “say no to envelope”.

Setelah melalui proses tanya jawab secara aktif selama kurang lebih 3 jam, forum ini menyepakati berdirinya AJI di Kediri. Selain sebagai organisasi profesi juga sebagai wadah perjuangan, advokasi, serta menjadi serikat pekerja pers di Kediri.

Persamaan persepsi dan paradigma itu kemudian dilanjutkan dengan pemilihan ketua Panitia Persiapan Pendirian AJI Kediri. Pola yang dilakukan adalah dengan metode penjaringan terbuka.

Hari itu pukul 24.00 WIB, disepakati untuk pembentukan Panitia Persiapan Pendirian Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kediri. Dari 26 jurnalis yang hadir, mengerucut kepada 3 nama sebagai kandidat ketua : Hamluddin (wartawan Harian Surya), Yusuf RH Saputro (wartawan Lativi) dan Andrean Sunaryo (wartawan Radar Tulungagung).

Melalui pemilihan secara demokratis, akhirnya Hamluddin didapuk sebagai ketua panitia. Dia memenangkan pemilihan dengan mendapatkan 12 suara. Sedangkan Yusuf menempati posisi kedua dengan meraih 11 suara. Sementara Andrean Sunaryo mendapatkan 3 suara.

Sedangkan Yusuf dan Andrean Sunaryo mendapat amanat untuk menjadi Wakil Ketua sekaligus koordinator sosialisasi lanjutan untuk daerah Kediri dan Tulungagung. Untuk melengkapi struktur kepanitiaan, Fadly Rahmawan (wartawan Trans TV) dipercaya sebagai sekretaris dan Hendra Setyawan (wartawan ANTV) sebagai bendahara.

Untuk mengarahkan jalannya persiapan pendirian AJI Kediri, forum memberi amanat kepada Dwidjo dan Amrul sebagai SC (steering committe).

Panitia Persiapan Pendirian AJI Kediri itu dibuat sebagai bentuk amanat segera dibentuknya kepengurusan AJI Kediri melalui penyelenggaraan konferensi serta deklarasi sebagai bentuk legitimasi yuridis dan historis dari AJI Indonesia yang berpusat di Jakarta. Keputusan kawan-kawan itu diketok pada hari Kamis tanggal 23 Februari 2006, pukul 03.10 WIB dinihari. (*)